Senin, 09 April 2012

Minggu ke-4 workshop penulisan “Ini Karyaku”

Workshop penulisan yang bertema “Ini Karyaku” sudah masuk minggu ke-4. Peserta yang berasal dari berbagai panti asuhan di Jakarta masih antusias datang dan mengikuti kegiatan yang diadakan di panti asuhan Muslimin, Jakarta.

Acara yang diprakarsai PPM, Jakarta ini memang ditujukan untuk remaja yang tinggal di panti asuhan se-Jakarta Pusat. Selain workshop menulis, ada juga kegiatan menggambar.

Firmanawaty in action

Pada 8 April 2012, saya dan Firmanawaty Sutan berbagi materi soal dialog pada peserta pelatihan menulis.

Firma mengawali dengan membahas beberapa naskah dari peserta yang sudah dikumpulkan pada sesi  minggu sebelumnya. 

Naskah tiap anak ditampilkan dalam slide dan ditunjukkan kekurangannya. Terutama dalam penulisan dialog. Tidak sampai di situ, dijelaskan pula pentingnya keberadaan dialog pada naskah, terutama pada naskah cerpen yang kebanyakan ditulis oleh peserta. 

Selain untuk “pemanis”, seperti yang diungkapkan Firma, juga menjadi kekuatan naskah. Sehingga naskah tidak melulu berisi deskripsi panjang dan melelahkan untuk dibaca.

Dari naskah yang ditulis peserta, masih terlihat kelemahan dalam cara menuliskan dialog. Bahwa dialog itu harus diawali dan diakhiri dengan tanda kutip adalah poin pertama yang dijelaskan pada peserta. Juga penempatan tanda baca untuk dialog yang bersambung dengan kalimat keterangan. Sebab masih banyak yang tidak menggunakan tanda baca semisal koma (,) atau (.) sebagaimana mestinya.

Penulisan dialog pun beragam polanya. Firma menjelaskan adanya dialog yang berpola pada:
  • Dialog+ kalimat keterangan, 
  •  Kalimat keterangan+dialog, 
  •  Dialog+keterangan+dialog, dan 
  •  Dialog.
Untuk pola yang terakhir terutama untuk situasi percakapan dua orang yang sudah dijelaskan tokohnya di awal. Sehingga pembaca sudah akan mengetahui dialog tokoh mana saja yang tertulis meski tak ada keterangan tokoh pengucapnya.

Selain itu, untuk meminimalkan penggunaan keterangan “kata A, kata B, kata C, dan lain-lain”, peserta diminta mencari kata lain yang memiliki arti sama dengan itu. Contohnya dengan memakai kata “seru A, ungkap B, ujar C, seloroh D, dan lain sebagainya.”

Tak lupa, pemakaian tanda baca di akhir dialog selain titik (.) dan koma (,) yang sesuai dengan situasi cerita. Seperti tanda tanya (?) dan tanda seru (!).

Membaca naskah contoh















Penulisan dialog yang selalu diawali dengan huruf kapital menjadi perhatian tersendiri. Karena masih banyak peserta yang sering menuliskannya dengan huruf kecil. Di akhir sesi, peserta diminta untuk kembali memperbaiki naskah yang sudah dibuat sesuai dengan materi yang diberikan. [sr-08042012]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar