Rabu, 28 Desember 2011

Sekilas Cerita Pendek untuk Anak


Cerita pendek anak adalah salah satu genre dari jenis cerita fiksi yang ada.  Cerpen anak tentunya mempunyai segmen pembaca utama adalah anak-anak. Jadi, cerita yang dibuat sebisa mungkin dapat dengan mudah dicerna oleh daya pikir anak-anak.
Cerpen anak pun mempunyai struktur cerita yang meliputi:  Adanya tema, ide cerita, konflik, perjuangan tokoh, dan penyelesaian.
Tema adalah gagasan sentral sebuah cerita, yaitu sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam cerita.

Ide cerita adalah topik pembicaraan dalam cerita. Ide cerita akan membawa tokoh utama dalam menggeluti keinginannya sampai akhir tercapai atau tidak. Sedangkan konflik adalah perjuangan tokoh utama dalam usaha menggapai keinginannya. Dalam konflik, tokoh utama bisa berbenturan dengan tokoh lawan (antagonis) atau dengan kata hati atau juga lingkungan.


Pada dasarnya, cerpen anak, terbagi menjadi beberapa bentuk. Ada yang bersifat Realis, Misteri/ detektif, Dongeng, sampai Futuristik.

1.    Cerpen Realis : ini cerpen yang paling banyak ditulis dan menjadi induk bagi ganre jenis cerpen anak berikutnya.

2.  Cerpen misteri/ Detektif-detektifan: cerpen ini juga digemari, karena mengundang rasa penasaran. Namun demikian kasus yang dipecahkan bukan sesuatu yang besar, ambil saja misalnya: hilangnya serutan di kelas, pencuri di rumah sebelah, bayangan di malam hari, dll. Karena keterbatasan halaman, pengarang harus memiliki trik untuk mengatur cerpen agar tetap menarik. Umumnya cerpen ini langsung dibuka oleh konflik (kasusnya), kemudian penyidikan, pengungkapan, dan penangkapan si pelaku.

3.    Cerpen misteri/horor: cerpen ini juga menarik minat dan punya kavling khusus di beberapa media anak-anak. Ceritanya kadang agak tidak logis dan berbau mistis. Namun cerita misteri jenis ini sebisa mungkin menghindari hal yang berbau klenik dari anak-anak. Pembaca dapat kita giring melalui sudut pandang metafisika yang memiliki penguraian lebih masuk akal.

4.   Cerpen Komedi: Ini cerpen yang dibumbui cerita-cerita berbau komedia. kadang terselip unsur fantasi berbau dongeng. 
5.   Cerpen futuristik dari namanya kita bisa tahu bahwa cerpen ini mengambil setting waktu masa depan. Untuk pengenalan teknologi, cerpen-cerpen ini baik sekali untuk dikembangkan. Kendala dalam menggarap cerpen ini adalah cara menuangkan ide-ide teknologi ke dalam bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.

6.  Cerpen momentum : ini cerita berhubungan dengan momen tertentu, misalnya cerpen tentang puasa, cerpen lebaran, cerpen agustusan, dll. Untuk jenis ini sebaiknya kita membuat tanda khusus di sudut kanan atas halaman muka cerpen yang dibuat, misalnya "Cerpen Hari Kartini". Sehingga sang Redaksi bisa segera mengetahui bahwa cerpen kita, cerpen momentum hari Kartini. Jangan mengirim cerpen momentum terlalu mepet. Usahakan paling tidak 3 bulan sebelumnya.

Dari semua bentuk tersebut, yang paling banyak ditulis adalah jenis Realis. Dimana kisah yang ditutur adalah mengenai kehidupan sehari-hari seorang anak. Baik itu di rumah atau di sekolah. Biasanya orang tua, guru akan menjadi penengah. Rumusannya sebagai berikut :

Pembukaan – Konflik - Penyelesain
Untuk dongeng, lebih menarik kalau dibuat ada satu keajaiban yang terjadi. Meski itu tidak harus. Misalnya : Biola yang bisa membuat orang menari bila digesek, Pohon yang bisa bicara, dan lain-lain.
Jelasnya, yang perlu diperhatikan dalam membuat cerpen anak untuk dikirim ke media koran, majalah, atau tabloid adalah :
1. Mengetahui karakter cerita di media yang dituju (majalah/ koran) dengan membacanya. Makin sering membaca cerita yang ada makin tahu seperti apa cerita yang bisa dimuat.
2.  Jumlah halaman, mulai ½ halaman sampai maksimal 4 halaman. Untuk Bobo 600-700 kata.
3.   Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti anak. Kalimatnya juga sederhana, SPOK. Kalau perlu, dengarkan anak-anak bicara, biar tahu kosakata yang mereka gunakan. Ingat, kita bertutur dari sudut pandang mereka, bukan sudut pandang kita.
4. Karena keterbatasan halaman, cerita langsung dibuka dengan konflik yang dihadapi tokoh utama pada paragraf awal, jangan bertele-tele dengan deskripsi. Misalnya : Kalau boleh memilih, Maya tidak ingin duduk sebangku dengan Mei. Sebab, Mei suka usil bahkan sering menyalin PR yang dibuatnya, tapi Mei tak jarang membelikannya jajan kalau istirahat. Itulah yang membuatnya bingung.
5. Biasakan mengirim lebih dari satu naskah per minggu pada majalah anak mingguan. Dan jangan terpaku untuk menunggu hasilnya, teruslah menulis, menulis, dan kirim.
Ingat, jangan membatasi tema pada satu masalah biasa, seperti suka membolos,  berbohong, atau menyontek, lepaslah imajinasi sebebasnya. Sebab imajinasi anak-anak mampu menembus ruang dan waktu. Selamat menggeluti dunia anak. [sr]

(Sumber: milis penulis-bacaan-anak@yahoogroups.com, gambar: Mystic Arts, LLC)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar