Jumat, 30 Desember 2011

Riang Hati Monika

Dongeng : Sokat Rachman

Sepinya suasana di kota Breta, tak membuat boneka-boneka di toko Alfons berdiam diri. Mereka asyik bersenda gurau seusai toko ditutup.
“Semoga saja ada yang memilihku besok,” tukas Pipin si panda merah putih.
“kenapa harus kamu?” tanya Monika, si boneka perempuan cantik berambut panjang.
“Karena aku lucu,” jawab Pipin tersenyum.
“Lebih lucu mana denganku?” kata Webi si boneka kelinci.
“Aku rasa Bebi lebih lucu dari kalian berdua,” potong Flix, boneka serdadu yang memegang senapan.
“Bila dot mulutnya dicabut, akan terdengar suara tangisannya,” lanjut Flix, “aku yakin anak-anak pasti tertarik memilikinya.”
Semua boneka menatap pada Bebi si boneka bayi yang tersenyum riang.
“Betul juga,” gumam Pipin.
“Setiap anak pasti berbeda selera,” sela Monika, “kita semua punya kesempatan yang sama untuk dimiliki.”
“Ya, benar buat apa kita susah, lebih baik kita berpesta!” seru Flix.
Semua boneka bersorak. Menari. Dan pesta pun dimulai.
*

“Ssst lihat Monika!” bisik Webi keesokan harinya.
“Ada apa?” tanya Monika.
“Kamu lihat anak di luar kaca itu, dia selalu memperhatikanmu,” sahut Webi.
Monika melihat ke arah luar etalase tempat mereka semua dipajang. Benar, di luar sana ada seorang gadis kecil yang selalu memandangnya.
“Sepertinya dia tertarik padamu,” kata Webi lagi.
“Tapi sayang, tampaknya dia tak mampu membelimu,” sela Pipin.
“Kau tahu dari mana?” tanya Monika.
“Tidakkah kau lihat, wajah dan pakaiannya kotor. Pasti dia seorang pengemis, mana mungkin dia memiliki uang untuk membelimu.”
“Benar juga katamu,” ucap Flix,apalagi kau ini berharga jauh lebih mahal dari pada kami semua.”
 “Hei, coba lihat,” ucap Webi, “Tuan Alfon mengusir anak itu.”
“Benar yang kubilang, kan?” tukas Pipin, “gadis itu hanyalah seorang pengemis, makanya Tuan Alfon mengusirnya.”
“Kasihan dia,” ucap Monika.
Ssst… diam, ada pembeli datang!” seru Flix.
Seorang anak dengan diantar Ibunya masuk ke toko dan segera melihat boneka-boneka yang dipajang.
“Boneka seperti apa yang kau mau, Vito,” tanya si Ibu pada anaknya.
Setelah memilih, akhirnya Vito menunjuk pada Flix. “Aku mau yang itu!
Tuan Alfon tersenyum senang. Segera dia mengambil kotak dan memasukkan Flix ke dalamnya.
“Selamat tinggal kawan,” bisik Flix sebelum pergi.
Dengan gembira Vito membawa kotak boneka Flix keluar dari toko Alfons.
“Sekarang Flix telah pergi, entah siapa lagi nanti,” ucap Monika.
“Beruntung sekali Flix, dia akan mendapatkan tempat yang baru,” kata Webi.
Hari pun berlalu dan malam menjelang. Tuan Alfon menutup toko miliknya. Boneka-boneka kembali berkumpul dan bercengkrama.
“Kenapa kulihat kau hanya diam saja Webi?” tanya Monika.
“Aku sedang berdoa agar besok ada anak yang mau membeliku,” jawab Webi.
“Apakah kau sudah tak betah tinggal di sini?”
“Aku senang tinggal bersama kalian,” kata Webi,” tapi aku juga ingin ada anak-anak yang mengajakku bermain.”
“Ya, betul. Aku sendiri sangat bosan hanya berdiam diri di sini,” ungkap Pipin.
“Bersabar saja, cepat atau lambat kita juga akan pergi dari sini,” ucap Monika.
 “Kalau begitu mari kita berpesta!!” seru Webi.
Begitulah, semua boneka pun berpesta semalaman. Dan ketika hari berganti menjadi siang mereka sudah kembali ke etalase pajang untuk menanti pembeli.
Kebetulan hari itu toko Tuan alfon sangat ramai. Banyak boneka yang terjual. Dari boneka yang dipajangnya, hanya Monika yang tersisa.
“Kenapa tak ada yang mau membeliku?” gumam Monika gundah.
Ia teringat pada ucapan Flix yang mengatakan tak setiap anak mampu membelinya, karena harganya yang mahal.
Padahal, dia sangat senang pada anak gadis yang selalu saja mencuri-curi kesempatan memandanginya. Namun, dia hanyalah seorang gadis pengemis, rasanya takkan mampu dia membelinya.
Tiba-tiba ada seorang gadis kecil masuk ke toko Tuan Alfon.
“Mencari apa, Nona?” sapa Tuan Alfon.
Gadis itu memperhatikan Monika. “Boleh aku membelinya?”
Tuan Alfon tertawa. “Oh, tentu saja. Pilihan Nona memang tak salah, dialah bintang boneka di sini.”
Monika senang sekali akhirnya ada juga yang membelinya. Namun, hatinya gundah, karena yang pembeli itu bukanlah gadis pengemis yang disukainya.
Tuan Alfon segera memasukkan Monika pada kotak pembungkusnya. Si gadis kecil pun membayar dan membawanya pergi.
Di sudut jalan, gadis itu berhenti. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. “Evita!”
Seorang gadis berpakaian kotor keluar dari satu sudut. Dialah gadis pengemis yang selalu memperhatikan Monika setiap hari.
“Ini, boneka yang kau pesan,” kata gadis yang membelinya tadi.
“Terima kasih, Kalina. Kau sudah berbaik hati menolongku untuk membelikannya,” ucap Evita, “pemilik toko itu tak suka melihatku mendekati tokonya sehingga aku tak berani membelinya sendiri.”
Seharusnya kamu tak perlu takut membeli sendiri,tukas Kalina.
“Tapi, pemilik toko itu tak suka melihat ada pengemis di tokonya, ungkap Evita, walaupun untuk membeli boneka.”
“Sudahlah, sekarang boneka ini sudah menjadi milikmu,” hibur Kalina, “kamu bebas memainkannya.”
Dengan gembira Evita memeluk Monika. Monika tersenyum mendengar semua itu. Dia pun tak kalah senang hatinya, sebab bisa tinggal bersama orang yang disukainya.
*****
(Dimuat di Bobo Nomor 35/XXXIX/8 Desember 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar